THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES �

Find Blog

Minggu, 10 Januari 2010

Sejarah Minyak dan Gas Bumi

Sejarah Minyak dan Gas Bumi

Bagaimana terjadinya minyak dan gas bumi ?
Ada tiga faktor utama dalam pembentukan minyak dan/atau gas bumi, yaitu : Pertama, ada “bebatuan asal” (source rock) yang secara geologis memungkinkan terjadinya pembentukan minyak dan gas bumi.


Sejarah Minyak dan Gas Bumi

Kedua, adanya perpindahan (migrasi) hidrokarbon dari bebatuan asal menuju ke “bebatuan reservoir” (reservoir rock), umumnya sandstone atau limestone yang berpori-pori (porous) dan ukurannya cukup untuk menampung hidrokarbon tersebut.
Ketiga, adanya jebakan (entrapment) geologis. Struktur geologis kulit bumi yang tidak teratur bentuknya, akibat pergerakan dari bumi sendiri (misalnya gempa bumi dan erupsi gunung api) dan erosi oleh air dan angin secara terus menerus, dapat menciptakan suatu “ruangan” bawah tanah yang menjadi jebakan hidrokarbon. Kalau jebakan ini dilingkupi oleh lapisan yang impermeable, maka hidrokarbon tadi akan diam di tempat dan tidak bisa bergerak kemana-mana lagi.
Temperatur bawah tanah, yang semakin dalam semakin tinggi, merupakan faktor penting lainnya dalam pembentukan hidrokarbon. Hidrokarbon jarang terbentuk pada temperatur kurang dari 65 oC dan umumnya terurai pada suhu di atas 260 oC. Hidrokarbon kebanyakan ditemukan pada suhu moderat, dari 107 ke 177 oC.

Apa saja komponen-komponen pembentuk minyak bumi ?

Minyak bumi merupakan campuran rumit dari ratusan rantai hidrokarbon, yang umumnya tersusun atas 85% karbon (C) dan 15% hidrogen (H). Selain itu, juga terdapat bahan organik dalam jumlah kecil dan mengandung oksigen (O), sulfur (S) atau nitrogen (N).
Apakah ada perbedaan dari jenis-jenis minyak bumi ?. Ya, ada 4 macam yang digolongkan menurut umur dan letak kedalamannya, yaitu: young-shallow, old-shallow, young-deep dan old-deep. Minyak bumi young-shallow biasanya bersifat masam (sour), mengandung banyak bahan aromatik, sangat kental dan kandungan sulfurnya tinggi. Minyak old-shallow biasanya kurang kental, titik didih yang lebih rendah, dan rantai paraffin yang lebih pendek. Old-deep membutuhkan waktu yang paling lama untuk pemrosesan, titik didihnya paling rendah dan juga viskositasnya paling encer. Sulfur yang terkandung dapat teruraikan menjadi H2S yang dapat lepas, sehingga old-deep adalah minyak mentah yang dikatakan paling “sweet”. Minyak semacam inilah yang paling diinginkan karena dapat menghasilkan bensin (gasoline) yang paling banyak.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membentuk minyak bumi ?

Sekitar 30-juta tahun di pertengahan jaman Cretaceous, pada akhir jaman dinosaurus, lebih dari 50% dari cadangan minyak dunia yang sudah diketahui terbentuk. Cadangan lainnya bahkan diperkirakan lebih tua lagi. Dari sebuah fosil yang diketemukan bersamaan dengan minyak bumi dari jaman Cambrian, diperkirakan umurnya sekitar 544 sampai 505-juta tahun yang lalu.
Para geologis umumnya sependapat bahwa minyak bumi terbentuk selama jutaan tahun dari organisme, tumbuhan dan hewan, berukuran sangat kecil yang hidup di lautan purba. Begitu organisme laut ini mati, badannya terkubur di dasar lautan lalu tertimbun pasir dan lumpur, membentuk lapisan yang kaya zat organik yang akhirnya akan menjadi batuan endapan (sedimentary rock). Proses ini berulang terus, satu lapisan menutup lapisan sebelumnya. Lalu selama jutaan tahun berikutnya, lautan di bumi ada yang menyusut atau berpindah tempat.
Deposit yang membentuk batuan endapan umumnya tidak cukup mengandung oksigen untuk mendekomposisi material organik tadi secara komplit. Bakteri mengurai zat ini, molekul demi molekul, menjadi material yang kaya hidrogen dan karbon. Tekanan dan temperatur yang semakin tinggi dari lapisan bebatuan di atasnya kemudian mendistilasi sisa-sisa bahan organik, lalu pelan-pelan mengubahnya menjadi minyak bumi dan gas alam. Bebatuan yang mengandung minyak bumi tertua diketahui berumur lebih dari 600-juta tahun. Yang paling muda berumur sekitar 1-juta tahun. Secara umum bebatuan dimana diketemukan minyak berumur antara 10-juta dan 270-juta tahun.

Sabtu, 09 Januari 2010

P3GL Upayakan Percepatan Eksplorasi Sumber Migas

Mengingat sekitar 70% potensi migas Indonesia terdapat di lepas pantai dan lebih dari separuhnya terletak di laut dalam, pemerintah melalui Peraturan Menteri ESDM No. 0030 tahun 2005 mengukuhkan Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (P3GL) sebagai institusi penunjang dalam penyediaan data klaim atas wilayah landas kontinen dan peningkatan status cekungan migas di laut.

Dalam upaya turut meningkatkan investasi sektor ESDM, P3GL mengemban tugas melakukan eksplorasi sumber-sumber minyak baru di lepas pantai untuk memenuhi kuota produksi minyak nasional dan pemberdayaan kemampuan survei dalam negeri dalam upaya melepaskan ketergantungan survei oleh pihak asing.

Kebijakan DESDM dalam upaya menemukan sumber-sumber migas baru adalah dengan meningkatkan kemampuan survei, eksplorasi dan penerapan teknologi institusi kelautan dalam negeri. Dengan memberdayakan institusi dalam negeri maka kegiatan-kegiatan survei geologi kelautan dapat diambil alih sehingga cost recovery kontraktor asing yang menjadi beban pemerintah dapat dihemat menjadi penerimaan Negara yang cukup signifikan.

P3GL telah banyak melakukan penelitian dan pengembangan bidang geologi kelautan di seluruh wilayah Indonesia dengan prioritas kegiatan melakukan penelitian dan pengembangan di kawasan pantai/laut, juga pengembangan pelayanan riset dan teknologi. Salah satunya dengan melakukan eksplorasi dan utilisasi potensi sumber-sumber gas biogenik atau gas methana di perairan dangkal sebagai sumber energi alternatif masyarakat kawasan pantai terpencil dan upaya antisipasi kelangkaan energi migas di masa yg akan datang.

Mungkinkah Indonesia meninggalkan pola "Production sharing" (KPS) ?



Dalam beberapa bulan terakhir ini saya kebetulan mendapat kesempatan untuk mengunjungi beberapa negara karena sedang mengerjakan beberapa proyek disana dan juga mengejar proyek-proyek baru di luar negeri. Saya sempat ke Brunei, karena kami sedang mengerjakan proyek Methanol milik pemerintah Brunei disana. Dari Brunei saya menyeberang ke Serawak untuk melihat pengerjaan team kami di proyek Crude oil terminal milik Petronas di Miri . Kami juga sedang mengejar Proyek Gas terminal di Sabah (salah satu negara bagian Malaysia di Serawak). Foto terlampir adalah ilustrasi team proyek kami yang berada di Miri, Serawak. Selain ke negara-negara tersebut, saya juga sempat bolak-balik ke Iran dan juga ke China untuk mengerjakan proyek dan juga mengejar peluang dengan berbagai mitra di negara-negara tersebut.

Dari perjalanan-perjalanan tersebut, ada suatu fakta yang agak “mengganggu” pemikiran saya. Berikut ini fakta tersebut :

* Brunei yang menerapkan pola “production sharing” (KPS) dengan perusahaan Shell Inggris, terlihat rakyatnya tidak terlalu modern (kurang maju)

* Malaysia tidak memberikan kesempatan kepada satupun pihak asing untuk menguasai konsesi kekayaan alam mereka (terutama di Serawak). Mereka tidak menerapkan pola “production sharing” di Serawak. Petronas menguasai seluruh konsesi minyak dan gas di Serawak. Tidak ada satupun negara asing yang boleh memiliki konsesi minyak ataupun gas di Serawak (juga lahan kelapa sawit).

* Iran mengembangkan industri energy (petrokimia), dan industri upstreamnya secara mandiri. Mereka mengembangkan industri kilang gas alam, kilang minyak, kimia dan petrokimia sepanjang ratusan kilometer dengan pemilik konsesi sumber daya alamnya adalah perusahaan BUMN Iran (tidak ada pihak asing).

* Seluruh konsesi batu bara di China dimiliki oleh perusahaan-perusahaan propinsi (BUMD) dan juga BUMN di China. Tidak ada satupun pihak asing yang menguasai konsesi batubara tersebut. China juga tidak memperkenankan satupun perusahaan asing untuk melakukan “production sharing”.

Salah satu kesedihan saya akhir-akhir ini adalah membaca Peraturan Pemerintah no:57 tahun 2007 tentang Panas bumi. Aturan dan tata caranya sama persis dengan tata cara kepemilikan konsesi batu bara. Jadi mungkin tidak terlalu lama lagi, maka konsesi panas bumi akan dimiliki oleh pihak asing & dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk keuntungan pihak asing. Padahal Pasal 33 ayat 3 tidak pernah berubah bahwa “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalammya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.

Saya saat ini mulai memikirkan apakah pola “production sharing” (KPS) dengan pihak asing di industri minyak, gas dan tambang sebaiknya mulai ditinggalkan oleh Indonesia ?. Pola KPS ini memang diperlukan oleh Indonesia disaat kita belum menguasai teknologinya dan juga tidak memiliki dana untuk explorasi maupun exploitasinya. Namun dengan semakin majunya kemampuan teknolog Indonesia dan juga tersedianya dana di pemerintahan baik berupa APBN dan APBD, seharusnya biaya explorasi dapat dibiayai oleh Pemda ataupun Pemerintah pusat. Sehingga APBN, APBD & PAD (pendapatan asli daerah) tidak hanya disimpan di SBI atau digunakan untuk proyek-proyek yang return-nya tidak jelas.

Jumat, 08 Januari 2010

CADANGAN GAS BUMI INDONESIA



Cadangan gas bumi Indoesia, terbukti dan potensial, mengalami kenaikan secara nyata. Tahun 2004, total cadangan gas adalah 182,5 trillion cubic feet (TCF), terdiri dari 94,78 TCF cadangan terbukti, dan 87,73 TCF potensial, dapat diproduksi dalam jangka waktu 64 tahun. Cadangan gas tersebut terkonsentrasi di Indonesia bagian barat. Oleh karena itu ke depan, kegiatan eksplorasi perlu di dorong ke arah Indonesia bagian timur.
CADANGAN GAS INDONESIA (TERBUKTI & POTENSIAL)
Klik disini untuk perbesar gambar
Terbukti = 94.78 TCF
Potensial = 87.73 TCF
Total = 182.50 TCF
CADANGAN GAS INDONESIA TERBUKTI & POTENSIAL, ( 1980 - 2004)
Klik disini untuk perbesar gambar
PRODUKSI GAS BUMI INDONESIA
Keadaan cadangan maupun produksi gas bumi Indonesia mengalami peningkatan secara nyata dalam kurun waktu 2 tahun terakhir ini. BPMIGAS bersama KKKS terus mengadakan kegiatan eksplorasi dan melakukan pengembangan lapangan gas baru. Diperkirakan dengan status on-going and new Plan of Development (POD), produksi gas mencapai 7,8 bcfd (billion cubic feed per day) di tahun 2004. Produksi akan mencapai puncak pada tahun 2008, dengan volume 8,3 bcfd.
PROFIL PRODUKSI GAS BUMI INDONESIA
Klik disini untuk perbesar gambar
PROYEK-PROYEK MINYAK DAN GAS 2003-2010
Klik disini untuk perbesar gambar
PASAR DAN KONTRAK GAS BUMI INDONESIA
KONTRAK-KONTRAK GAS 1997-2004
Klik disini untuk perbesar gambar
VOLUME KONTRAK-KONTRAK BARU GAS BUMI DOMESTIK VS EKSPORT 2002 – 2004
Klik disini untuk perbesar gambar
VOLUME KONTRAK-KONTRAK GAS BUMI DOMESTIK BARU 2002 – 2004
Klik disini untuk perbesar gambar
PENGEMBANGAN LAPANGAN GAS
LAPANGAN BELANAK
Belanak FPSO merupakan satu dari fasilitas produksi terapung di dunia dioperasikan oleh ConocoPhillips di laut Natuna, dengan total nilai investasi sebesar US$ 863 juta.
Pengembangan Lapangan Belanak
Klik disini untuk perbesar gambar
Klik disini untuk perbesar gambar
OVERVIEW BELANAK FPSO
Klik disini untuk perbesar gambar
KILANG GAS BETARA
Kilang Betara fasilitas gas prosessing, dikembangkan oleh PetroChina Jambi, termasuk fasilitas produksi dan jaringan pipa, senilai US$ 331,435,365.
Panjang: 60 km
Kapasitas: 100 mmscfd gas
9,500 bopd condensate
16,500 bopd LPG
Klik disini untuk perbesar gambar
PRODUSER GAS INDONESIA
ExxonMobil Oil
Klik disini untuk perbesar gambar
ConocoPhillips (Grissik)
Klik disini untuk perbesar gambar
Klik disini untuk perbesar gambar
Pasokan gas ekspor COPI Grissik :
Gas Supply Pty. Ltd. (GSPL) Singapore Power anrata. 95 BBTUD – 220 BBTUD untuk 20 tahun
Island Power => Plateau 110 BBTUD untuk 13 tahun

Pasokan gas domestik COPI Grissik :
CPI – I => Plateau 250 BBTUD untuk 13 tahun
CPI – II => Plateau 185 BBTUD untuk 23 tahun
Medco Energy untuk lapangan Ukui sebesar 0.8 BBTUD selama 5 tahun
Pertamina untuk lapangan Ukui sebesar 0.74 BBTUD selama 5 tahun
PGN Batam sebesar 50 BBTUD untuk 14 tahun
PGN Batam II untuk PLN Panaran sebesar 15 BBTUD selama 15 tahun
PGN untuk Industri Jawa Barat => Plateau 400 BBTUD selama 17 tahun

EMP Kangean (ex. BP Kangean)
Pasokan gas ke :
PLN Gresik => Plateau 242 BBTUD for 20 years
PGN Jawa Timur => Plateau 46 BBTUD for 15 years
Petrokimia Gresik => Plateau 60 BBTUD for 20 years
Klik disini untuk perbesar gambar
Kodeco Energy Co., Ltd.,
Pasokan gas ke :
PLN Gresik => Plateau 100 BBTUD untuk 17 tahun
Klik disini untuk perbesar gambar
Lapindo Brantas
Pasokan gas ke :
PGN Jawa Timur => Plateau 80 BBTUD untuk 7 tahun
Klik disini untuk perbesar gambar
Amerada Hess (Indonesia – Pangkah)
Pasokan gas ke :
PLN Gresik => Plateau 100 BBTUD untuk 17 tahun
Klik disini untuk perbesar gambar
Santos (Oyong)
Pasokan gas per hari ke Pembangkit Listrik Grati antara 40 – 60 BBTUD untuk 10 tahun
Klik disini untuk perbesar gambar
Klik disini untuk perbesar gambar
Santos Maleo
Potensi pasar ke PGN di Jawa Timur sebesar 100 BBTUD untuk 8 tahun
Klik disini untuk perbesar gambar
Klik disini untuk perbesar gambar
BP ONWJ
Pasokan gas ke :
PLN Muara Karang & Tg. Priok => Plateau 265 BBTUD untuk 13 tahun
PGN Muara Karang => Plateau 20 BBTUD
Klik disini untuk perbesar gambar
JARINGAN PIPA GAS INDONESIA
Produksi gas Indonesia dialokasikan untuk ekspor LNG dan gas pipa, juga untuk konsumsi domestik. Konsumsi domestik diprioritaskan dari ekspor.
JARINGAN PIPA GAS BUMI INDONESIA
Klik disini untuk perbesar gambar
JALUR PIPA GAS GRISSIK-DURI (Singapore Power)
Klik disini untuk perbesar gambar
Sistem Transmisi Gas di Jawa Timur
Klik disini untuk perbesar gambar
Sistem Transmisi Gas Bontang - Kalimantan Timur
Klik disini untuk perbesar gambar
Sistem Transmisi Gas Bumi Sulawesi
Klik disini untuk perbesar gambar
Sistem Transmisi Gas Bumi Sumatera Selatan - Jawa Barat
Klik disini untuk perbesar gambar
Sistem Transmisi Gas Bumi Sumatera dan Natuna
Klik disini untuk perbesar gambar
Klik disini untuk perbesar gambar

Kamis, 07 Januari 2010

Geologi minyak bumi

Geologi minyak bumi adalah salah satu cabang ilmu geologi untuk mengetahui keberadaan minyak bumi di bawah tanah, kemudian mengeksplorasi dan memproduksinya. Secara umum ada dua jenis geologi minyak bumi, yaitu geologi eksplorasi minyak bumi yang mencakup pencarian minyak bumi dan geologi produksi minyak bumi. Produksi minyak bumi dalam bidang perminyakan bukan diartikan untuk membuat minyak bumi, tetapi hanyalah membuat fasilitas untuk mengalirkan minyak bumi dari bawah tanah ke atas permukaan tanah, dengan menggunakan pemboran dan pompa-pompa.

Teori keberadaan minyak bumi ada dua buah, yaitu teori organik dan teori anorganik. Teori organik sekarang ini banyak dianut oleh para ahli geologi, dimana minyak bumi dipercayai dihasilkan oleh sisa-sisa organisma yang sudah mati berjuta-juta tahun yang lalu. Sedangkan teori anorganik kebanyakan berkembang di Eropa Timur dan Rusia di mana para ahli mempercayai bahwa minyak bumi dapat dihasilkan bukan dari bahan organik. Prinsip geologi minyak bumi yang sekarang umum dipakai adalah teori organik sehingga minyak bumi sering disebut bahan bakar fosil. Bila teori anorganik terbukti, maka akan muncul lagi sumber-sumber minyak bumi yang selama ini belum dieksplorasi.

Eksplorasi Minyak Bumi

Tahap-Tahap Operasi Dalam Industri Minyak dan Gas Bumi

1. Tahap Eksplorasi

1.1. Lingkungan Terdapatnya Minyak dan Gas Bumi

Hampir sbagian besar minyak dan gas bumi ditemukan pada lapisan batuan pasir dan karbonat. Sangat terbatas terbentuk batuan shale, batuan volkanik ataupun rekahan batuan dasar (basalt).
Studi pendahuluan meliputi geologi regional, yang menyangkut studi komparatif atau perbandingan dengan daerah geologi lainnya yang telah terbukti produktif. studi ini mempertimbangkan formasi yang bisa dijadikan sasaran eksplorasi, struktur yang dapat bertindak sebagai perangkap dan seterusnya.
Pada umumnya lebih tebal lapisan sedimen didapatkan, kemungkinan ditemukannya minyak bumi akan lebih besar. Hal ini disebabkan karena pada umumnya lebih tebal lapisan sedimen itu, tentu lebih banyak lagi formasi yang dapat bertindak sebagai reservoir maupun sebagai batuan induk. Lebih luasnya batuan sedimen tersebar, akan lebih memungkinkan atau lebih leluasa kita mencapai perangkap minyak dan gas bumi.



Gambar 1. Reservoir Antiklin
Gambar 2. Reservoir Patahan
Gambar 3. Reservoir Stratigraphy
Gambar 4. Reservoir Kubah Garam

1. Survey Geologi Permukaan
Pemetaan geologi pada permukaan secara detail dapat dilakukan jika memeng terdapat singkapan. Pemetaan dilakukan pada rintisan dan juga di sepanjang sungai.

2. Survey Seismik
Untuk survey detail, metode seismik merupakan metode yang paling teliti dan dewasa ini telah melampaui kemampuan geologi permukaan. metode yang digunakan adalah khusus metode refleksi. Walaupun pemetaan geologi detail terhadap tutupan telah dilakukan, pengecekan seismik selalu harus dilaksanakan, untuk penentuan kedalam objektif pemboran serta batuan dasar dan juga lapisan yang akan menghasilkan minyak.

Gambar 5. Contoh Hasil Seismik

3. Survey Gravitasi detail
Survey Gravitasi detail kadang-kadang juga digunakan untuk mendetailkan adanya suatu tutupan (closure), terutama jika yang diharapkan adalah suatu intrui kubah garam (salt dome) atau suatu terumbu, daripadanya diharapkan adanya kontras dalam gravitasi antara lapisan penutup dengan batuan reservoir atau batuan garam. Metode ini sudah agak jarang digunakan karena teknologi sismik sudah semakin maju.

1.2. Prognosis
Semua propek yang telah dipilih serta dinilai dalam suatu sistem penilaian, kemudian dipih untuk dilakukan pemboran eksplorasi terhadapnya. Maka semua prospek ini haruslah diberi prognosis. Yang dimaksud Prognosis adalah rencana pemboran secara terperinci serta ramalan-ramalan mengenai apa yang akan ditemui waktu pemboran dan pada kedalaman berapa. Prognosis meliputi ;

1. Lokasi Yang Tepat
Lokasi ini biasanya harus diberikan dalam koordinat. Untuk mencegah terjadinya kesalahan dalam lokasi titik terhadap tutupan struktur, sebaliknya semua koordinat lokasi tersebut penentuannya dilakukan dari pengukuran seismik, terutama jika tutupan ditentukan oleh metode seismik. Jika hal ini terjadi di laut misalnya, maka pengukuran harus dilakukan dari pelampung (buoy) yang sengaja ditinggalkan di laut pada pengukuran seismik, juga dari titik pengukuran radar di darat. Setidak-tidaknya pengukuran lokasi itu harus teliti sekali sebab kemelesetan beberapa ratus meter dapat menyebabkan objektif tidak diketemukan.

2. Kedalaman Akhir
Kedalaman Akhir pemboran eksplorasi biasanya merupakan batuan dasar cekungan sampai mana pemboran itu pada umumnya direncanakan. penntuan kedalaman akhir ini sangat penting karena dengan demikian kita dapat memperkirakan berapa lama pemboran itu akan berlangsung dan dalam hal ini juga untuk berapa lama alat bor itu kita sewa. Penentuan kedalaman akhir ini diasarkan atas data seismik, setelah dilakukan korelasi dengan semua sumur yang ada dan juga dari kecepatan rambat reflektor yang ditentukan sebagai batuan dasar.

3. Latar Belakang Geologi
Alasan untuk pemboran didsarkan atas latar belakang geologi. Maka harus disebutkan keadaan geologi daerah tersebut, alasan pemboran eksplorasi dilakukan di daerah tersebut, jenis tutupan prospek dan juga struktur yang diharapkan dari prospek tersebut.

4. Objektif Atau Lapisan Reservoir Yang Diharapkan
Ini biasanya sudah ditentukan dan stratigrafi regional dan juga diikat dengan refleksi yang didapat dari seismik. Objektif lapisan reservoir ini harus ditentukan pada tingginya kedalaman yang diharapkan akan dicapai oleh pemboran, dimana diperoleh dari perhitungan kecepatan rambat seismik.

5. Kedalaman Puncak Formasi Yang Akan Ditembus
Juga dalam prognosis ini harus kita tentukan formasi-formasi mana yang akan dilalui bor, maka kedalaman puncak (batas) formasi ini harus ditentukan dari data seismik.

6. Jenis Survey Lubang Bor Yang Akan Dilaksanakan
Pada setiap Pemboran eksplorasi selalu dilakukan survey lubang bor. Survey meliputi misalnya peng-Logan lumpur, Peng-Logan Cutting, Peng-Logan Listrik, Peng-Logan Radioaktif, dan sebagainya. Sebaiknya pada pemboran eksplorasi dilakukan survey yang lengkap , selain itu juga harus direncanakan apakah akan dilakukan pengambilan batu inti (coring) atau tidak.

Dalam pembuatan prognosis ini juga ahli geologi harus bekerja sama dengan bagian eksploitasi dan bagian pemboran. Dengan demikian diharapkan diperoleh hasil yang sangat baik dalam pengembangan suatu lapangan nantinya.

Rabu, 06 Januari 2010

Tipe Pemboran Horizontal

Berdasarkan besarnya pertambahan sudut pada lubang yang mengalami pertambahan sudut (rate radius of curvature), maka pemboran horisontal dibagi menjadi 4 tipe, yaitu :
1. Long radius system
2. Medium radius system
3. Short radius system
4. Ultra short radius system

1. Long Radius System Metode ini sering disebut dengan sistem pemboran horisontal konvensional. Pemboran long radius ini mempunyai laju pertambahan sudut yang kecil sekali, yaitu 2 – 6 / 100 ft.MD. Sudah tentu untuk mencapai titik awal bagian lubang yang horisontal dari KOP, diperlukan jarak yang sangat panjang yaitu antara 1500 – 4500 ft. Jarak pemboran atau ekivalen dengan radius kelengkungan 1000 – 3000 ft. Peralatan yang digunakan pada pemboran type ini paling sederhana diantara keempat type pemboran horisontal yang ada, karena peralatan pada pemboran ini merupakan peralatan pemboran konvensional yang susunannya telah dimodifikasi. Karena kesederhanaannya dan juga relatif mudah aplikasinya, pemboran horisontal tipe ini banyak sekali dilakukan, walaupun untuk mencapai titik sasaran yang sama diperlukan jarak pemboran yang jauh lebih panjang dibanding dengan ketiga tipe pemboran horisontal lainnya. Kelebihan dari penggunaan system long radius adalah :
? Dapat menghasilkan bagian lubang mendatar yang sangat panjang (>5000 ft).
? Peralatan pemboran yang digunakan adalah peralatan yang konvensional (hampir sama dengan directional drilling).
? Tingkat dog leg yang tidak terlalu tinggi.

Sedangkan kelemahan dari penggunaan sistem long radius adalah :
? Trayek yang harus dikontrol sangat panjang.
? Formasi-formasi di atas target harus ditembus pada jarak yang lebih panjang.


http://www.unsri.ac.id/blog/darajat/teknik-pemboran/tipe-pemboran-horizontal/mrdetail/84/