THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES �

Find Blog

Jumat, 15 Januari 2010

Seismik

Teknologi Q migration diterapkan pada data seismik dengan tujuan untuk melakukan migrasi seismik sekaligus melakukan koreksi amplitudo serta fasa seismik yang terdistorsi karena efek atenuasi dan velocity dispersion. Dengan kata lain, setelah melakukan Q Migration, diharapkan diperoleh data yang telah dikembalikan ke posisi dan timing yang seharusnya serta mengembalikan kandungan frekuensi tinggi yang hilang akibat atenuasi.

Persamaan gelombang pada domain transformasi Fourier ditunjukkan oleh Gazdag (1978), sbb:

Dimana U adalah medan gelombang, kx adalah bilangan gelombang pada arah horizontal, kz adalah bilangan gelombang pada arah vertikal, Δz adalah sampling pada arah vertikal, ω adalah frekuensi sudut.

Bilangan gelombang pada arah vertikal, kz didefinsikan dengan:
Dimana k=ω/v. Untuk memperhitungkan efek atenuasi, maka kecepatan v digantikan oleh frekuensi dependent dan kompleks kecepatan c:

Dimana Q adalah atenuasi dan γ=1/(πQ(z)).

Gambar di bawah ini menunjukkan contoh data seismik sebelum proses migrasi:

Courtesy Wang, Y., GEOPHYSICS,VOL. 73, NO. 1 , 2008

Gambar di bawah ini adalah hasil migrasi konvensional, tanpa melibatkan efek Q (gambar a), sedangkan gambar (b) adalah hasil migrasi dengan melibatkan efek Q (Q Migration). Perhatikan kehadiran frekuensi tinggi yang memberikan definisi reflektor dengan lebih baik.
Courtesy Wang, Y., GEOPHYSICS,VOL. 73, NO. 1 , 2008

Gambar di bawah ini adalah perbandingan trace seismik dari hasil migrasi konvensional dan hasil Q migration. Perhatikan perbedaan kedalaman event pada kedalaman sekitar 600, 1050 meter. Jelas bahwa dengan Q Migration, data seismik telah mengalami koreksi pergeseran fasa.

Courtesy Wang, Y., GEOPHYSICS,VOL. 73, NO. 1 , 2008

Reference: Courtesy Wang, Y.,Inverse-Q filtered migration, GEOPHYSICS,VOL. 73, NO. 1 , 2008

Tuesday, November 17, 2009

4-D Seismic

Proyek Seismic 4-D untuk monitoring reservoir merupakan kunci utama didalam keberhasilan peningkatan recovery minyak bumi dan pengurangan biaya operasi.

Aktifitas produksi dan EOR (Enhanced Oil Recovery) menyebabkan perubahan sifat fisis pada reservoir. Perubahan sifat fisis tersebut diantaranya: saturasi fluida, tekanan, temperatur yang pada akhirnya akan menyebabkan perubahan Impedansi Akustik dari reservoir.

Adanya perubahan Impedansi Akustik di atas dapat dimonitor dengan melakukan survey seismik kembali (Monitor). Dimana perbedaan sifat seismik antara survey Monitor dengan survey awal (Baseline) dikenal dengan studi Seismic 4-D.

Perubahan kecepatan gelombang seismik dan densitas reservoir tergantung pada jenis batuan, sifat fluida dan depletion mechanism. Injeksi gas dapat mengakibatkan peningkatan tekanan pori sehingga terjadi penurunan kecepatan gelombang seismik, sebaliknya pergantian minyak oleh air dapat mengakibatkan peningkatan kecepatan dan densitas.

Sebelum melakukan survey seismik 3D untuk tahap monitoring, studi kelayakan dengan melakukan seismic modeling harus dilakukan. Modeling ini bertujuan untuk melihat sensitifitas gelombang seismik (khususnya Detectability dan Fidelity) terhadap perubahan Impedansi Akustik reservoir akibat proses produksi. Modeling tersebut harus meliputi semua skenario yang bisa terjadi seperti substitusi fluida, saturasi, penurunan tekanan akibat proses produksi yang menyebabkan tekanan minyak turun dibawah bubble point, kenaikan temperatur akibat injeksi uap, perilaku carbonate versus clastic reservoir, Net to Gross, Permeabilitas, jenis wavelet, frekuensi, noise, dll.

Courtesy Norsar

Gambar di atas mengilustrasikan hasil modeling untuk data seismik awal (Baseline) dan Difference yakni perbedaan antara Monitor dan Baseline, perhatikan respon 4D pada penampang Difference, menunjukkan perubahan sifat reservoir yang signifikan.

Selanjutnya, setelah lulus dari studi kelayakan, data seismik monitor harus memiliki Repeatability yakni derajat kemiripannya dengan data awal (Baseline) pada zona non-produksi. Ketidakmiripan antara data Monitor dan Baseline, bisa diakibatkan oleh perbedaan parameter pengambilan data seismik i.e. bin size, panjang streamer, orientasi pengambilan data, jumlah trace dalam tiap CDP, tide, parameter pengolahan data seismik, dll.

Repeatability dapat dikuantifikasi dengan menghitung Normalized RMS-Amplitude Difference (NRMSD). Repeatability yang tinggi ditunjukkan dengan nilai NRMSD yang sangat kecil. Gambar di bawah ini menunjukkan histogram NRMSD untuk beberapa proses seismik: sebelum diproses (merah), tidal correction (biru), swell noise removal (hijau), channel smoothing (magenta) dan demultiple (biru muda). Perhatikan bahwa semakin sempurna processing seismik, histogram NRMSD akan terdorong ke nilai rendah (lihat garis kuning sebagai acuan).
Li et al., EAGE 66th Conference & Exhibition, 2004

Dikarenakan Survey Monitor dilakukan pada tahap produksi dimana fasilitas dan infrastruktur telah banyak berdiri. Sehingga, pada umumnya lay out survey serta parameter akuisisi seismik akan berbeda dari Baseline.

Survey seismik pada daerah dengan infrastuktur diatasnya. Courtesy Geco-Parkla

Seperti diilustrasikan pada gambar di bawah ini, sebelah kiri menunjukkan lay out survey dan gambar sebelah kanan menunjukkan perbedaan distribusi bin.
Courtesy James Rickett, Stanford University, and David E. Lumley, Chevron Petroleum Technology Company

Akibat adanya perbedaan parameter tersebut di atas, maka data seismik yang dihasilkannya pun akan berbeda pula. Gambar di bawah ini menunjukkan perbandingan antara penampang seismik untuk Monitor dan Baseline untuk parameter akusisi diatas. Perhatikan, Repeatability data tersebut sangat rendah i.e. keduanya menunjukkan perbedaan resolusi, amplitudo, frekuensi dan fasa(?) yang sangat mencolok pada zona non produksi.

Courtesy James Rickett, Stanford University, and David E. Lumley, Chevron Petroleum Technology Company

Dengan demikian, sebelum kita memproduksi penampang Difference beberapa proses harus dilakukan sehingga derajat Repeatability-nya dapat ditingkatkan. Proses tersebut diantaranya: survey realignment sehingga kedua data memiliki grid dan bin yang sama, koreksi statik (tidal correction), dan penggunaan model kecepatan yang sama baik untuk NMO maupun migrasi, penyamaan panjang gelombang (frekuensi) dan fasa untuk mengkompensasi perbedaan wavelet sumber dan amplitude balancing sehingga keduanya memiliki level energi yang sama, dll. Proses processing tersebut dikenal dengan Cross Equalization.

Proses Cross Equalization memerlukan sebuah operator wavelet yang diestimasi pada window waktu tertentu (zona statik, non reservoir) baik dangkal maupun dalam sehingga fasa, amplitudo, frekuensi, dll. dari kedua data seismik tersebut benar-benar identik.

Gambar di bawah ini menunjukkan perbandingan data Baseline dan Monitor setelah berbagai proses diatas. Perhatikan pada zona statik (non reservoir – non produksi), keduanya menunjukkan karakter yang sama.

Courtesy James Rickett, Stanford University, and David E. Lumley, Chevron Petroleum Technology Company

Analisis detail perlu dilakukan untuk melihat perubahan karakter seismik pada zona reservoir. Analisis ini dikenal dengan trace to trace comparison. Gambar di bawah ini menunjukkan trace to trace comparison pada zona reservoir yang setelah injeksi uap.

Courtesy Li et al, TLE 2001.

Pada gambar di atas terlihat bahwa karakter seismik untuk zona overburden tidak berubah. Akan tetapi efek injeksi uap menyebabkan perubahan amplitudo pada zona reservoir yakni penurunan Impedansi Akustik. Pada base-reservoir time shifting dapat terjadi sebagai velocity sag, dengan demikian sebelum memproduksi Difference proses local time-shifting perlu dilakukan.

Gambar di bawah ini menunjukkan respon seismik 4D untuk monitoring pergerakan fluida (air atau uap) oleh sumur injector. Perhatikan perbedaan respon seismik yang berbeda dari injector satu ke injektor yang lainnya.

Courtesy Paulo Johan et al., TLE, 2009

Sistem Sirkulasi


Sistem Sirkulasi
the equipment used to remove unwanted gas from a liquid, especially from drilling fluid.

density n: the mass or weight of a substance per unit volume. For instance, the density of a drilling mud may be 10 pounds per gallon, 74.8 pounds/cubic foot, or 1,198.2 kilograms/cubic meter. Specific gravity, relative density, and API gravity are other units of density.
density log n: a special radioactivity log for open-hole surveying that responds to variations in the specific gravity of formations. It is a contact log (i.e., the logging tool is held against the wall of the hole). It emits neutrons and then measures the secondary gamma radiation that is scattered back to the detector in the instrument. The density log is an excellent porosity-measure device, especially for shaley sands. Some trade names are Formation Density Log, Gamma-Gamma Density Log, and Densilog.

derrick derrick n: a large load-bearing structure, usually of bolted construction. In drilling, the standard derrick has four legs standing at the corners of the substructure and reaching to the crown block. The substructure is an assembly of heavy beams used to elevate the derrick and provide space to install blowout preventers, casingheads, and so forth

Switzer Luncurkan Porsche GT2 800 Hp



Tuner asal Amerika, Switzer, membuat gebrakan baru dengan paketan Porsche GT2. Memegang teguh dasar sedan sport dengan berprinsip pada penampilan standar tetapi performa menjadi hal yang dapat dibanggakan dari hasil karya terbarunya ini. Paket kebut yang diterapkan untuk Porsche ini mengakibatkan kemampuan mesin melonjak dashyat hinggga 800 horse power (588 kW).

Bahan bakar yang digunakan untuk menghidupkan dan menghasilkan tenaga yang besar tersebut bisa membutuhkan kadar oktan sekitar 102. Beberapa perangkat racing diadopsi untuk membangkitkan performa mesin primanya. Langkah awal yang dilakukan mengubah dan menyeting ulang Engine Control Unit (ECU) dari Porsche GT2 tersebut.





Selain itu piranti turbocharger lansiran Garret GT30R turut di upgrade demi mendapatkan racikan yang pas dan mendukung kinerja mesinnya. Konsekuensi lain dari meningkatnya tenaga berupa naikknya temperatur mesin secara cepat. Intercooler custom dari Switzer juga terpaksa dihadirkan untuk menjaga kondisi mesin saat harus dipacu dalam putaran tinggi. Perubahan lain terjadi pada sistem exhaust yang tentu saja terpaksa diracik ulang menggunakan perangkat racing. Selain untuk mengimbangi kinerja mesin, kehadirannya pun juga membuat raungan mesin yang kian garang. [nus/timABT]

Tampilan Penuh Kharisma Lexus SC430 Wednesday 10 June 2009


Setiap perubahan tentunya membawa efek yang ditimbulkan, antara positif dan negatif mungkin itulah ungkapan yang pas. Berbeda dengan Lexus SC430 berikut ini, pengaruh modifikasi secara lembut perlahan justru memperlihatkan sebuah perbaikan dan penegasan imej berkarakter. Hal ini ditambah dengan tampang sporty-nya yaitu berpintu dua alias coupe, merupakan salah satu faktor yang menguatkan gayanya.

Sedan buatan Jepang yang dikhususkan untuk pasar Eropa ini oleh sang tuner banyak dirubah pada sisi eksteriornya. Setiap lekuk bodinya merupakan perpaduan dari bodi kit hasil rancangan WALD Executive. Sedikit rada gambot dengan penampilannya kini, namun kesan sebagai sedan bertampang sport tetap dapat dipertahankan. Kehadiran bumper depan dengan gaya yang baru ditambah piranti grill membuat wajah agresifnya semakin nyata.


Merambah ke sisi perangkat roda terdapat piranti suspensi dengan sistem coilover lansiran TEIN, pemakaian suspensi tersebut cukup membuat handling dan performa semakin handal saat dipacu. Sementara untuk bagian chassis juga ditambahkan dengan sway bar penunjang kestabilan putaran setir dan membangun rasa nyaman ketika dikendarai. Velg bintang lima berlapis chrome dihadirkan untuk mempercantik tampilannya.

Tidak terdapat perubahan yang sangat kental pada segi dapur pacunya. Karena sang modifikator hanya berpedoman pada prinsip bodi ekterior saja yang dibangun. Sekedar membuat garang raungan mesin, perangkat exhaust racing dari Blitz Exhaust turut diaplikasikan pada mesinnya.




Sama halnya dengan mesin, interior Lexus SC430 ini juga tak mendapat sentuhan khas. Fitur pabrikan sepertinya cukup memuaskan hati sang owner. Kelebihan yang justru ditawarkan dari Lexus berkelir putih tersebut yakni terletak pada perubahan roof spoiler di atapnya, sehingga dua tipe dapat diraih sekaligus, untuk coupe ataupun sebagai roadster. Hal ini berfungsi pula sebagai penutup kelemahan standarisasi interior.

Kamis, 14 Januari 2010

TAHAPAN PEMBORAN

Langkah-langkah :
Pembuatan rencana pemboran : titik koordinat, elevasi, perkiraan lithologi dan tekanan formasi, program lumpur, konstruksi sumur, program coring, analisa cutting, logging, dan testing.
Persiapan pemboran : pembuatan jalan, jembatan, pemilihan menara bor dan peralatan yang sesuai, pemasangan alat pembantu (jaringan telekomunikasi, air, listrik, dsb), perhitungan perkiraan biaya pemboran.
Pemboran eksplorasi sekaligus mengumpulkan data-data formasi melalui coring dan pemeriksaan cutting.
B. EVALUASI FORMASI

Bila tidak prospek sumur ditutup, sebaliknya bila prospek, sumur diselesaikan

Perencanaan pemboran deliniasi

Persiapan pemboran deliniasi
C. PEMBORAN DELINIASI

Tujuan :
Menentukan batas-batas reservoir
Menentukan bentuk struktur reservoir
Menentukan batas GOC dan WOC
Langkah-langkah :
Pemboran deliniasi biasanya 3 atau 4 buah sumur masing-masing di sebelah Utara, Selatan, Timur dan Barat dari antiklinalnya.
Analisa data
Perhitungan perkiraan besarnya cadangan dengan metoda volumetrik
Perencanaan jumlah dan letak sumur pengembangan yang harus di bor untuk mengeksploitasi lapisan tersebut
D. PEMBORAN PENGEMBANGAN DAN TAHAP PRODUKSI

Tujuan :
Memperjelas dan mempertajam hasil pemboran sebelumnya
Mengetahui rate produksi
Mengetahui kumulatif produksi
Test produksi dengan Drill Steam Test (DST) dan survey lubang bor dengan logging

Langkah-langkah :
Perencanaan dan persiapan pemboran
Pemboran sumur-sumur pengembangan
Penyelesaian sumur-sumur pengembangan
Perencanaan dan persiapan pemasangan fasilitas produksi, dsb
Kegiatan memproduksi dan transportasi

Rabu, 13 Januari 2010

Sejarah Pembentukan Bumi dan Perkembangannya: Teori Terjadinya Bumi dan Tata Surya

Bumi terbentuk miliaran tahun lalu, tetapi permukaan Bumi telah banyak mengalami proses perkembangan dan perubahan sepanjang masa. Perubahan tersebut bersifat cepat maupun lambat. Penyebab perubahan tersebut adalah gaya dari dalam bumi (Endogen) dan tenaga dari luar Bumi (eksogen).


Bumi merupakan bagian dari sistem galaksi yang berada di jagat raya, yaitu galaksi Bimasakti. Tahukah kamu apa yang disebut dengan galaksi? Dalam ilmu astronomi, galaksi diartikan sebagai suatu sistem yang terdiri dari bintang-bintang, gas dan debu yang amat luas, dimana anggotanya mempunyai gaya tarik-menarik (gravitasi). Bumi yang kita tempati hanya bagian kecil saja dari galaksi Bimasakti, yaitu bagian dari tata surya dengan matahari sebagai pusatnya.


Bimasakti bukanlah satu-satunya galaksi yang ada di alam semesta ini. Jumlah keseluruhan galaksi yang dapat dipotret dengan teleskop berdiameter 5m di Observatorium Hale mungkin sampai kira-kira satu miliar galaksi. Galaksi-galaksi inilah pengisi jagat raya.

1. Teori Kabut Kant-Laplace
Sejak jaman sebelum Masehi, para ahli telah banyak berfikir dan melakukan analisis terhadap gejala-gejala alam. Mulai abad ke 18 para ahli telah memikirkan proses terjadinya Bumi.
Ingatkah kamu tentang teori kabut (nebula) yang dikemukakan oleh Immanuel Kant (1755) dan Piere de Laplace (1796)? Mereka terkenal dengan Teori Kabut Kant-Laplace. Dalam teori ini dikemukakan bahwa di jagat raya terdapat gas yang kemudian berkumpul menjadi kabut (nebula). Gaya tarik-menarik antar gas ini membentuk kumpulan kabut yang sangat besar dan berputar semakin cepat. Dalam proses perputaran yang sangat cepat ini, materi kabut bagian khatulistiwa terlempar memisah dan memadat (karena pendinginan). Bagian yang terlempar inilah yang kemudian menjadi planet-planet dalam tata surya.

2. Teori Planetesimal
Seabad sesudah teori kabut tersebut, muncul teori Planetesimal yang dikemukakan oleh Chamberlin dan Moulton. Teori ini mengungkapkan bahwa pada mulanya telah terdapat matahari asal. Pada suatu ketika, matahari asal ini didekati oleh sebuah bintang besar, yang menyebabkan terjadinya penarikan pada bagian matahari. Akibat tenaga penarikan matahari asal tadi, terjadilah ledakan-ledakan yang hebat. Gas yang meledak ini keluar dari atmosfer matahari, kemudian mengembun dan membeku sebagai benda-benda yang padat, dan disebut planetesimal. Planetesimal ini dalam perkembangannya menjadi planet-planet, dan salah satunya adalah planet Bumi kita.


Pada dasarnya, proses-proses teoritis terjadinya planet-planet dan bumi, dimulai daribenda berbentuk gas yang bersuhu sangat panas. Kemudian karena proses waktu dan perputaran (pusingan) cepat, maka terjadi pendinginan yang menyebabkan pemadatan (pada bagian luar). Adapaun tubuh Bumi bagian dalam masih bersuhu tinggi.

3. Teori Pasang Surut Gas
Teori ini dikemukakan leh jeans dan Jeffreys, yakni bahwa sebuah bintang besar mendekati matahari dalam jarak pendek, sehingga menyebabkan terjadinya pasang surut pada tubuh matahari, saat matahari itu masih berada dalam keadaan gas. Terjadinya pasang surut air laut yang kita kenal di Bumi, ukuranya sangat kecil. Penyebabnya adalah kecilnya massa bulan dan jauhnya jarak bulan ke Bumi (60 kali radius orbit Bumi). Tetapi, jika sebuah bintang yang bermassa hampir sama besar dengan matahari mendekati matahari, maka akan terbentuk semacam gunung-gunung gelombang raksasa pada tubuh matahari, yang disebabkan oleh gaya tarik bintang tadi. Gunung-guung tersebut akan mencapai tinggi yang luar biasa dan membentuk semacam lidah pijar yang besar sekali, menjulur dari massa matahari tadi dan merentang kea rah bintang besar itu.


Dalam lidah yang panas ini terjadi perapatan gas-gas dan akhirnya kolom-kolom ini akan pecah, lalu berpisah menjadi benda-benda tersendiri, yaitu planet-planet. Bintang besar yang menyebabkan penarikan pada bagian-bagian tubuh matahari tadi, melanjutkan perjalanan di jagat raya, sehingga lambat laun akan hilang pengaruhnya terhadap-planet yang berbentuk tadi. Planet-planet itu akan berputar mengelilingi matahari dan mengalami proses pendinginan. Proses pendinginan ini berjalan dengan lambat pada planet-planet besar, seperti Yupiter dan Saturnus, sedangkan pada planet-planet kecil seperti Bumi kita, pendinginan berjalan relatif lebih cepat.


Sementara pendinginan berlangsung, planet-planet itu masih mengelilingi matahari pada orbit berbentuk elips, sehingga besar kemungkinan pada suatu ketika meraka akan mendekati matahari dalam jarak yang pendek. Akibat kekuatan penarikan matahari, maka akan terjadi pasang surut pada tubuh-tubuh planet yang baru lahir itu. Matahari akan menarik kolom-kolom materi dari planet-planet, sehingga lahirlah bulan-bulan (satelit-satelit) yang berputar mengelilingi planet-planet. peranan yang dipegang matahari dalam membentuk bulan-bulan ini pada prinsipnya sama dengan peranan bintang besar dalam membentuk planet-planet, seperti telah dibicarakan di atas.

4. Teori Bintang Kembar
Teori ini dikemukakan oleh seorang ahli Astronomi R.A Lyttleton. Menurut teori ini, galaksi berasal dari kombinasi bintang kembar. Salah satu bintang meledak sehingga banyak material yang terlempar. Karena bintang yang tidak meledak mempunyai gaya gravitasi yang masih kuat, maka sebaran pecahan ledakan bintang tersebut mengelilingi bintang yang tidak meledak. Bintang yang tidak meledak itu adalah matahari, sedangkan pecahan bintang yang lain adalah planet-planet yang mengelilinginya.

5. Teori Dentuman besar (Big Bang Theory)
Teori ini berdasarkan jenis asumsi adanya massa yang sangat besar dan mempunyai massa jenis sangat besar. Adanya reaksi inti menyebabkan amssa tersebut meledak hebat. Massa tersebut kemudian mengembang dengan sangat cepat, menjauhi pusat ledakan. Karena adanya gravitasi, maka bintang yang paling kuat gravitasinya akan menjadi pusatnya.
Dari berbagai teori yang dikemukakan para ahli, kebanyakan ilmuwan mendukung teori dentuman besar. Menurut mereka, ledakan besar tersebut merupakan awal terbentuknya alam semesta

Sekilas Abah Andadinata – Margaluyu

Sekilas tentang sejarah Abah Andadinata.

Beliau dilahirkan didesa kecil Ranca Bayawak disebelah selatan kota Majalaya kira-kira 30 km dari kota Bandung. Sejak usia muda beliau berkelana ke seantero Jawa Barat untuk belajar silat dan spritual.

Mimpi yang ada didalam dirinya adalah bercita-cita menjadi sosok yang bisa menyumbangkan pengetahuannya kepada orang lain. Dengan tekad yang kuat tanpa mengenal, akhirnya Allah SWT mewujudkan mimpinya menjadi kenyataan. Beliau menjadi seorang yang memiliki keterampilan silat luar dalam yang sangat tangguh.

Disisi lain beliau memiliki kepribadian yang prima berkat ketekunananya menjalankan syariat agama. Sehingga Abah Andadinata hingga saat ini dikenal sebagai pribadi yang keteladananya bisa menjadi contoh.

Pada awalnya beliau mendirikan gerak badan pencak Margaluyu pada dekade tahun 1920an, tetapi baru ditahun 1930 Margaluyu dikenal pada kalangan yang sangat terbatas. Mengingat kondisi pada saat itu adalah bukan saat yang tepat, mengingat Indonesia masih berada dalam era penjajahan yang tentunya bukanlah hal yang mudah untuk melatih beladiri secara terbuka.

Margaluyu mulai dikenal sejak abah Andadinata berhasil mengamankan daerah Cicalengka tepatnya desa Cikuya dari gangguan gerombolan sekitar tahun 1946. Oleh karena itu lurah desa Cikuya pada waktu itu bapak Ibrahim meminta beliau menetap di desa Cikuya untuk melatih sport (olah raga) Margaluyu-pusat kepada warga desa.

Dengan dibantu oleh Mang Ulis, Mang Andi Rohandi, Mang Suwandi dan Mang Uwen warga desa berlatih Gerak Badan Margaluyu. Dan baru pada tahun 1948 secara resmi Gerak Badan Penca Margaluyu-pusat didaftarkan ke PPSI dan Departemen Pendidikan & Kebudayaan

Sumber : Anggota Margaluyu
Di Publish untuk Silatindonesia.com

www.silatindonesia.com