THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES �

Find Blog

Rabu, 06 Januari 2010

The Best Black Bike Djarum Black Motodify Cirebon 2009 : 'Unjuk Gigi Kempol Di Rumah Sendiri'



Bagi anda pemerhati Djarum Black Motodify pasti sudah tak asing dengan nama tim yang satu ini. Yups ini dia Kempol Team Modification yang asli Kota Cirebon. Tahun 2008 kita mengingat tim ini dengan terobosan luar biasanya motor Yamaha Vega berbody Jeep Willys. Berbekal pengalaman matang, kembali tim solid ini unjuk gigi di rumahnya sendiri dengan modifikasi terbaru berbasis motor lawas Honda C70. Diaplikasi bergaya Minerva MadAss dengan sistem penggerak gardan mobil yang menggantikan rantai, tak ayal membuat motor hitam ini keluar sebagai yang terbaik untuk kategori The Best Black Bike mewakili Cirebon pada Final Djarum Black Motodify 2009 di kota Solo.

Selaku perwakilan tim, Didi menjelaskan tentang konsep awal modifikasi motor ini, "Konsep awalnya sich dari Honda 70 yang kita rubah jadi Minerva Mid Ace. Inspirasinya sich khayalan hanya sekilas, terus lihat kerangka 70 (Honda C70) itu kok hampir sama dengan rangka tengah MadAss hanya lebih kecil terus kita bungkus sama plat dan setelah dicoba-coba akhirnya bisa".



"Ubahan yang kita lakukan sendiri mulai sistem penggerak dari rantai ke gardan terus swing arm tunggal pakai mono arm, terus di mesin kita buat kopling aplikasi sistem moge dengan sistem hidraulik, terus sistem pengereman depan mengadopsi dari sistem pengereman pesawat terbang BIB yaitu cakram dalam tromol," lanjutnya lagi tentang ubahan yang menonjol di motornya.



Selain ubahan yang disebutkan Didi diatas nyatanya masih banyak kastemisasi mantap lain yang diterapkan di motor ini. Hal tersebut diantaranya pembentukan rangka, kedok depan, fairing, buritan dan pelindung mesin yang seluruhnya hasil kastemisasi Kempol sendiri. Rincian kaki depan seperti sudah disinggung Didi motor ini memakai fork up side down Moge, rem cakram double model BIB, kaliper Ride It, master rem Kitaco dan tromol BIB ala Kempol. Untuk rincian kaki belakang ubahan yang dilakukan seperti penggunaan swing arm handmade, suspensi YSS, cakram Ninja, kaliper Ride It, master rem Kitaco dan tromol hasil modifikasi dari Mio yang juga dikastem Kempol sendiri.

Tetap mempertahankan mesin Honda C70, penggantian seputar sistem pacu terlihat pada aplikasi kruk as Karisma, karburator Honda Grand, intake manifold kastem ala Kempol, CDI BRT, kopling hidraulik ala Kempol, oil cooler Satria FU 150 dan knalpot serta tangki bensin yang juga handmade. Diluar perpaduan apik diatas Didi tetap menggaris bawahi bahwa beberapa kesulitan seputar memang terletak pada pengerjaan cakram depan, kopling sama penggeraknya. "Lama pengerjaan motor ini sendiri kurang lebih sekitar dua bulan dengan total biaya sekitar Rp 15 jutaan," imbuhnya lagi.

Ditanya tentang kesannya menang sebagai The Best Black Bike, lelaki yang murah senyum ini berujar, "Yang pasti senang banget ya apalagi ini di kota sendiri mewakili Cirebon buat di Final Battle Solo". "Untuk ubahan kedepan jujur belum tahu tapi untuk harapan kedepannya semoga motor ini bisa menang di Final Battle Solo," katanya menguraikan harapan sekaligus menutup percakapan. Yups salut buat Kempol dengan ide-ide segarnya, kita tunggu kamu di Final Battle Solo ! [mot/timABT]

Selasa, 05 Januari 2010

Proses Penyulingan Minyak Bumi

Meskipun prosesnya berbeda-beda, ada satu proses dasar yang harus dilalui oleh berbagai jenis BBM. Proses itu dinamakan proses penyulingan atau pemisahan distilasi. Lewat proses ini, minyak mentah diuraikan menjadi berbagai produk turunan. Nah, produk turunan inilah yang bakal jdi bahan baku BBM yang kita kenal sekarang
Secara teoritis proses penyulingan bisa kita bagi dalam beberapa langkah :
1. Minyak bumi yang akan diproses ditampung dalam sebuah wadah yang memiliki selang penghubung dengan ruang destilasi.
2. Wadah tersebut diletakan di atas tungku yang bisa menghasilkan panas sampe 600 derajat celcius
3. Dalam proses pemanasan ini, minyak bumi bakalan menguap jadi gas. Perlu diketahui, penguapan minyak bumi nggak terjadi sekaligus. Penguapan itu terjadi bertahap. Masing-masing tahapan menghasilkan beberapa komponen mulai dari gas, naftalen, gasoline, kerosin, solar, dan beberapa jenis bahan bakar lainya.
4. Uap yang dihasilkan akan dialirkan ke ruang destilasi. Ruang destilasi ini diatur sedemikian rupa. Di dalamnya ada tabung dan nampan yang suhunya disesuaikan dengan titik didih masing-masing komponen
5. Nantinya, komponen-komponen itu bakal masuk ke dalam tabung yang sesuai dengan karakternya. Misalnya gasoline bakal mesuk ke nampan bersuhu 70 derajat celcius.

Senin, 04 Januari 2010

Apa Komposisi Dari Minyak Bumi ?

Minyak bumi adalah campuran komplek hidrokarbon plus senyawaan organik dari Sulfur, Oksigen, Nitrogen dan senyawa-senyawa yang mengandung konstituen logam terutama Nikel, Besi dan Tembaga.

Minyak bumi sendiri bukan merupakan bahan yang uniform, melainkan berkomposisi yang sangat bervariasi, tergantung pada lokasi, umur lapangan minyak dan juga kedalaman sumur.

Dalam minyak bumi parafinik ringan mengandung hidrokarbon tidak kurang dari 97 % sedangkan dalam jenis asphaltik berat paling rendah 50 %.

Komponen Hidrokarbon
Perbandingan unsur-unsur yang terdapat dalam minyak bumi sangat bervariasi. Berdasarkan atas hasil analisa, diperoleh data sebagai berikut :

  • Karbon : 83,0-87,0 %
  • Hidrogen : 10,0-14,0 %
  • Nitrogen : 0,1-2,0 %
  • Oksigen : 0,05-1,5 %
  • Sulfur : 0,05-6,0 %

Komponen hidrokarbon dalam minyak bumi diklasifikasikan atas tiga golongan, yaitu :

  • golongan parafinik
  • golongan naphthenik
  • golongan aromatik
  • sedangkan golongan olefinik umumnya tidak ditemukan dalam crude oil, demikian juga hidrokarbon asetilenik sangat jarang.

Crude oil mengandung sejumlah senyawaan non hidrokarbon, terutama senyawaan Sulfur, senyawaan Nitrogen, senyawaan Oksigen, senyawaan Organo Metalik (dalam jumlah kecil/trace sebagai larutan) dan garam-garam anorganik (sebagai suspensi koloidal).

  1. Senyawaan Sulfur
    Crude oil yang densitynya lebih tinggi mempunyai kandungan Sulfur yang lebih tinggu pula. Keberadaan Sulfur dalam minyak bumi sering banyak menimbulkan akibat, misalnya dalam gasoline dapat menyebabkan korosi (khususnya dalam keadaan dingin atau berair), karena terbentuknya asam yang dihasilkan dari oksida sulfur (sebagai hasil pembakaran gasoline) dan air.

  2. Senyawaan Oksigen
    Kandungan total oksigen dalam minyak bumi adalah kurang dari 2 % dan menaik dengan naiknya titik didih fraksi. Kandungan oksigen bisa menaik apabila produk itu lama berhubungan dengan udara. Oksigen dalam minyak bumi berada dalam bentuk ikatan sebagai asam karboksilat, keton, ester, eter, anhidrida, senyawa monosiklo dan disiklo dan phenol. Sebagai asam karboksilat berupa asam Naphthenat (asam alisiklik) dan asam alifatik.
  3. Senyawaan Nitrogen
    Umumnya kandungan nitrogen dalam minyak bumi sangat rendah, yaitu 0,1-0,9 %. Kandungan tertinggi terdapat pada tipe Asphalitik. Nitrogen mempunyai sifat racun terhadap katalis dan dapat membentuk gum / getah pada fuel oil. Kandungan nitrogen terbanyak terdapat pada fraksi titik didih tinggi. Nitrogen klas dasar yang mempunyai berat molekul yang relatif rendah dapat diekstrak dengan asam mineral encer, sedangkan yang mempunyai berat molekul yang tinggi tidak dapat diekstrak dengan asam mineral encer.
  4. Konstituen Metalik
    Logam-logam seperti besi, tembaga, terutama nikel dan vanadium pada proses catalytic cracking mempengaruhi aktifitas katalis, sebab dapat menurunkan produk gasoline, menghasilkan banyak gas dan pembentukkan coke. Pada power generator temperatur tinggi, misalnya oil-fired gas turbine, adanya konstituen logam terutama vanadium dapat membentuk kerak pada rotor turbine. Abu yang dihasilkan dari pembakaran fuel yang mengandung natrium dan terutama vanadium dapat bereaksi dengan refactory furnace (bata tahan api), menyebabkan turunnya titik lebur campuran sehingga merusakkan refractory itu.

Agar dapat diolah menjadi produk-produknya, minyak bumi dari sumur diangkut ke Kilang menggunakan kapal, pipa, mobil tanki atau kereta api. Didalam Kilang, minyak bumi diolah menjadi produk yang kita kenal secara fisika berdasarkan trayek titik didihnya (distilasi), dimana gas berada pada puncak kolom fraksinasi dan residu (aspal) berada pada dasar kolom fraksinasi.

Setiap trayek titik didih disebut “Fraksi”, misal :

0-50°C : Gas
50-85°C : Gasoline
85-105°C : Kerosin
105-135°C : Solar
> 135°C : Residu (Umpan proses lebih lanjut)

Jadi yang namanya minyak bumi atau sering juga disebut crude oil adalah merupakan campuran dari ratusan jenis hidrokarbon dari rentang yang paling kecil, seperti metan, yang memiliki satu atom karbon sampai dengan jenis hidrokarbon yang paling besar yang mengandung 200 atom karbon bahkan lebih.

Secara garis besar minyak bumi dikelompokkan berdasarkan komposisi kimianya menjadi empat jenis, yaitu :

  1. Parafin
  2. Olefin
  3. Naften
  4. Aromat

Tetapi karena di alam bisa dikatakan tidak pernah ditemukan minnyak bumi dalam bentuk olefin, maka minyak bumi kemudian dikelompokkan menjadi tiga jenis saja, yaitu Parafin, Naften dan Aromat.

Kandungan utama dari campuran hidrokarbon ini adalah parafin atau senyawa isomernya. Isomer sendiri adalah bentuk lain dari suatu senyawa hidrokarbon yang memiliki rumus kimia yang sama. Misal pada normal-butana pada gambar berikut memiliki isomer 2-metil propana, atau kadang disebut juga iso-butana. Keduanya memiliki rumus kimia yang sama, yaitu C4H10 tetapi memiliki rumus bangun yang berbeda seperti tampak pada gambar.

Jika atom karon (C) dinotasikan sebagai bola berwarna hitam dan atom hidrogen (H) dinotasikan sebagai bola berwarna merah maka gambar dari normal-butan dan iso-butan akan tampak seperti gambar berikut :

normal-Butan - CH3(CH2)2CH3

iso-Butan - CH3(CH3)CHCH3

Senyawa hidrokarbon ‘normal’ sering juga disebut sebagai senyawa hidrokarbon rantai lurus, sedangkan senyawa isomernya atau ‘iso’ sering juga disebut sebagai senyawa hidrokarbon rantai cabang. Keduanya merupakan jenis minyak bumi jenis parafin.

Sedangkan sisa kandungan hidrokarbon lainnya dalam minyak bumi adalah senyawa siklo-parafin yang disebut juga naften dan/atau senyawa aromat. Berikut adalah contoh dari siklo-parafin dan aromat.

siklo-Heksana atau naftena - C6H12

Benzen (aromat)- C6H6

‘Keluarga hidrokarbon’ terebut diatas disebut homologis, karena sebagian besar kandungan yang ada dalam minyak bumi tersebut dapat dipisahkan kedalam beberapa jenis kemurnian untuk keperluan komersial. Secara umum, di dalam kilang minyak bumi, pemisahan perbandingan kemurnian dilakukan terhadap hidrokarbon yang memiliki kandungan karbon yang lebih kecil dari C7. Pada umumnya kandungan tersebut dapat dipisahkan dan diidentifikasi, tetapi hanya untuk keperluan di laboratorium.

Campuran siklo parafin dan aromat dalam rantai hidrokarbon panjang dalam minyak bumi membuat minyak bumi tersebut digolongkan menjadi minyak bumi jenis aspaltin.

Minyak bumi di alam tidak pernah terdapat dalam bentuk parafin murni maupun aspaltin murni, tetapi selalu dalam bentuk campuran antara parafin dan aspaltin. Pengelompokan minyak bumi menjadi minyak bumi jenis parafin dan minyak bumi jenis aspaltin berdasarkan banyak atau dominasi minyak parafin atau aspaltin dalam minyak bumi. Artinya minyak bumi dikatakan jenis parafin jika senyawa parafinnya lebih dominan dibandingkan aromat dan/atau siklo parafinnya. Begitu juga sebaliknya.

Dalam skala industri, produk dari minyak bumi dikelompokkan berdasarkan rentang titik didihnya, atau berdasarkan trayek titik didihnya. Pengelompokan produk berdasarkan titik didih ini lebih sering dilakukan dibandingkan pengelompokan berdasarkan komposisinya.

Minyak bumi tidak seluruhnya terdiri dari hidrokarbon murni. Dalam minyak bumi terdapat juga zat pengotor (impurities) berupa sulfur (belerang), nitrogen dan logam. Pada umumnya zat pengotor yang banyak terdapat dalam minyak bumi adalah senyawa sulfur organik yang disebut merkaptan. Merkaptan ini mirip dengan hidrokarbon pada umumnya, tetapi ada penambahan satu atau lebih atom sulfur dalam molekulnya, seperti pada gambar berikut :

Metil merkaptan - CH3CH2SH

Senyawa sulfur yang lebih kompleks dalam minyak bumi terdapat dalam bentuk tiofen dan disulfida. Tiofen dan disulfida ini banyak terdapat dalam rantai hidrokarbon panjang atau pada produk distilat pertengahan (middle distillate).

Selain itu zat pengotor lainnya yang terdapat dalam minyak bumi adalah berupa senyawa halogen organik, terutama klorida, dan logam organik, yaitu natrium (Na), Vanadium (V) dan nikel (Ni).

Titik didih minyak bumi parafin dan aspaltin tidak dapat ditentukan secara pasti, karena sangat bervariasi, tergantung bagaimana komposisi jumlah dari rantai hidrokarbonnya. Jika minyak bumi tersebut banyak mengandung hidrokarbon rantai pendek dimana memiliki jumlah atom karbon lebih sedikit maka titik didihnya lebih rendah, sedangkan jika memiliki hidrokarbon rantai panjang dimana memiliki jumlah atom karbon lebih banyak maka titik didihnya lebih tinggi.

Sumber: http://persembahanku.wordpress.com

Mercy CL-Class Berubah Wujud


Bagi sebuah rumah modifikasi, perubahan merupakan hal penting yang harus terus menerus dilakukan terhadap penampilan sebuah mobil. Ini terlihat dari karya terkini AMG yang baru saja menelurkan Mercedes Benz CL-Class dengan gaya baru dan terbilang cukup kontroversi. Tampang aslinya telah jauh dibuang dan kini penampilannya semakin mempesona dengan konsep baru tersebut.

Tampang mewah dan elegan tetap terpancar dari wajahnya, terlebih dengan lambang khas yang terpampang pada gril horizontal, menguatkan karakter khas penampilannya. Terpasang jelas pada spoiler lip dua buah fog lamp. Kehadiran velg bintang lima berikut kombinasi warna menjadikan ciamik perangkat rodanya.


Perubahan kontroversi yang terjadi pada keseluruhan bodi eksteriornya terlihat dari atap kabin yang bersistem multi atau convertible. Dengan sistem otomatis, atap kabin tersebut dapat membuka atupun menutup sendiri sesuai keinginan pengemudi. Tidak hanya itu, untuk sisi interior pun juga diperhatikan secara seksama, terlihat dari permainan warna kulit pada fitur didalamnya. Tidak dipungkiri dengan perpaduan tersebut semakin menyakinkan sisi eksklusif.

Minggu, 03 Januari 2010

Sejarah Perminyakan di Indonesia


Kolonel Drake

Sejarah industri minyak modern tidak bisa lepas dari nama Edwin Laurentine Drake (1819-1880) yang dikenal juga sebagai Colonel Drake. mBah Drake ini didaulat juga sebagai “Bapak” industri perminyakan modern, karena pada tanggal 27 Agustus 1859 untuk pertama kalinya melakukan pengeboran minyak secara komersil di Titusville, Pennsylvania, Amrik sana. Pada hari itu mata bor mBah Drake menyentuh lapisan minyak pada kedalaman 60,5 kaki (± 21 meter). Meskipun jika kita merujuk pada bukunya Ida Tarbell pada tahun 1904 dalam bukunya “The History of Standard Oil” menyebutkan bahwa sumur minyak yang dibuatnya bukan merupakan idenya mBah Drake, tapi ide dari pekerjanya yaitu George Bissell.

Jauh sebelum mBah Drake memulai manték bumi untuk ngebor minyak, minyak bumi sudah diketahui dan digunakan sebagai alat perang pasukan Alexander Yang Agung (356 SM - 323 SM) untuk digunakan pada anak panah berapi dan katapel besar yang menggunakan bola peluru berapi. Di Indonesia sendiri konon minyak telah digunakan juga sebagai alat perang oleh armada kapal pasukan Kerajaan Sriwijaya, meskipun saya sendiri belum pernah melihat atau membaca data otentik tersebut.

Awal Kegiatan Perminyakan di Indonesia

Sejarah industri perminyakan modern di Indonesia sendiri diawali pada tahun 1870 oleh P. Vandijk, seorang engineer Belanda di daerah Purwodadi - Jawa Tengah, tepatnya di desa Ngamba, melalui pengamatan rembesan-rembesan minyak di permukaan tanah. Di desa Ngamba tersebut mBah Vandijk mendapatkan rembesan air asin yang mengandung minyak. Tapi karena terjadi gempa di Yogyakarta pada tahun 1867 hampir semua rembesan tersebut tertutup dan tidak mengeluarkan rembesan minyak lagi. Yang tertinggal hanya air asin yang berbau minyak.

Pada bulan November 1895 perusahaan Mac Neill & Co. di Semarang mendapat konsesi di daerah tersebut selama 15 tahun. Kemudian pada bulan April 1896 dirubah menjadi 75 tahun, dan daerahnya meliputi Klantung Sejomerto.


http://www.givangkara.com/2007/03/18/5/

Audi


Nama besar Audi sebagai produsen mobil papan atas dunia memang tak perlu diragukan lagi. Varian mereka memang selalu jadi incaran para kaum jet set yang butuh kendaraan berkelas yang sesuai jati diri mereka. Salah satu model yang cukup menonjol datang dari varian Audi A5. Perpaduan antara gaya, kenyamanan dan performa maksimal jelas jadi acuan mengapa mobil ini begitu jadi incaran. Tak hanya diminati kalangan perorangan, nyatanya mobil ini juga dilirik rumah modif Seneer untuk dikastem lebih jadi mantap.

Ubahan modif yang dilakukan Senner dimulai dari bagian eksterior. Kosmetik wajah luar terlihat makin gahar berkat asupan body kit baru yang meliputi pemakaian spoiler apron depan, pelapis kaca spion, spoiler belakang, lip spoiler dan bumper belakang yang kesemuanya memakai bahan serat karbon. Dirancang dinamis, parts baru yang menempel ini juga sudah memperhatikan sisi aerodinamitas.



Menopang kenyamanan dan kestabilan berkendara, Senner lantas mengganti beberapa fitur yang berhubungan pada suspensi. Adapun detailnya meliputi pemakaian coilover suspensi Bilstein B16 PSS10 yang dilengkapi setelan ketinggian terpisah. Tak hanya adaptatif, penerapan coilover ini jelas jadi acuan laju mobil saat di jalan. Untuk saluran buang, mobil dua pintu ini mengandalkan sistem exhaust baru berbahan stainless steel berikut 4 lubang knalpot sebagai penyelarasnya.

Untuk kaki-kaki, mobil yang seluruh bodynya dibalur warna putih metalik ini hadir dengan velg ASA GT1 ukuran 20 inchi yang bebas dipilih antara warna hitam dof atau perak berkilau. Lanjut menuju interior kita akan disuguhkan ubahan panel konsol tengah yang berbahan karbon dan beberapa pelapis seperti pada jok, dashboard, maupun juga bagian trimnya. Dipersenjatai mesin 3.0 TDI, mobil ini mampu mengeluarkan tenaga hingga 300 hp dan torsi sebesar 600 Nm. Dan dengan torehan tenaga maksimal hingga 280 km/h, dapat dipastikan kalau mobil ini jelas punya gaya yang berbeda !

Drilling Liner (Application 2)



Unstable Formations with time dependent bore hole stability

– Shale
– Salt

Solution: Run Liner while Drilling

– Hole Protected
– Liner at Desired Position